← Kembali ke Beranda

Rumah Tua Padangan

Padangan merupakan kawasan kota tua yang menjadi saksi sejarah kejayaan perdagangan di tepi Bengawan Solo. Arsitektur rumah tua di sini memiliki perpaduan unik antara gaya Indis (Eropa) dan Tionghoa. Bangunan ini umumnya menggunakan kayu jati kualitas terbaik dari hutan Bojonegoro yang masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Padangan merupakan salah satu kecamatan di daerah Kabupaten Bojonegoro. Secara geografis, Padangan terletak di sisi barat dari Ibukota Kabupaten Bojonegoro. Sebelah Utara Kecamatan Padangan ini berbatasan langsung dengan Bengawan Solo/Kecamatan Kasiman, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ngraho, Tambakrejo, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Purwosari, dan sebelah Barat berbatasan dengan Bengawan Solo, Provinsi Jawa Tengah (Statistik Bappeda Kabupaten Bojonegoro, 1990). Wilayah Padangan juga sangat dekat dengan Cepu yang berada di Jawa Tengah, atau yang sering dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu daerah penghasil minyak.
Pada masa Kerajaan Mataram dan awal berdirinya VOC, Padangan menjadi wilayah yang sangat penting. Saat itu, Padangan pernah menjadi Ibukota Kadipaten Jipang dengan Mas Tumapel sebagai Bupati dan merangkat wedana bupati Mancanegara Wetan. Penetapan Padangan sebagai Ibukota Kadipaten Jipang disebabkan adanya perjanjian antara Sunan Amangkurat kepada VOC. Oleh karena itu, VOC melayangkan tuntutan untuk memindahkan Ibukota Kadipaten Jipang berada di seberang Bengawan Solo (Subagtio, 2020). Oleh karena letak Padangan yang berada di sekitar aliran Bengawan Solo, wilayah ini juga akhirnya berkembang sebagai pusat perdagangan pada saat itu. Terdapat dermaga yang saat itu menjadi tempat pemberhentian dan aktifitas kapal-kapal dagang.
Adanya wilayah perdagangan di Padangan menyebabkan banyak pedagang dari Eropa dan Cina yang datang ke daerah ini. Para pedagang dari Cina memiliki dua kamp yang besar di Sungai Solo (Bengawan Solo). Tempat tersebut merupakan tempat beberapa orang Eropa bekerja. Pada sisi barat Padangan juga terdapat district Plunturan yang memiliki sumur minyak, daerah ini juga banyak ditempati oleh orang-orang Eropa dan Cina (De Locomotief, 1898). Terdapat juga buku nama-nama perusahaan yang ada di Regentschap Bodjonegoro, khususnya di daerah Padangan tahun 1941. Pada bidang pertanian, ada “Perusahaan Beras Mentah Tjepoe” di Padangan, Ngareng. Pada bidang percetakan dan penjilidan buku, ada “Rumah Percetakan Padangan”. Perusahaan paling banyak ada di bidang tekstil, khususnya pabrik tenun. Ada tenun “Balai Kambang”, “Djwa Sien Hwa”, “gunung Mas, dan “Gunung Ringgit”. Keempat perusahaan tersebut merupakan perusahaan kain mandi, piyama, sarung dan lurik (Centraal Kantoor voor de Statistiek, 1941).
Sedikit penjelasan mengenai latar historis Kecamatan Padangan, membuat wilayah ini memiliki cukup banyak tempat-tempat bangunan tua/kolonial. Terdapat dua bangunan kolonial yang berhasil didapatkan di Kecamatan Padangan. Salah satu banguan pada masa kolonial adalah Padangan Heritage merupakan salah satu bangunan kolonial yang berhasil diselamatkan dan saat ini telah dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro sebagai Local History and Museum. Menurut informasi dari ahli waris ketiga, yaitu (Fachrudin, 2022), bahwa Padangan Heritage merupakan bekas rumah tinggal seorang pengusaha tembakau lokal yang ada di Padangan, yaitu H. Ali Rasyad. Rumah ini dibangun sekitar tahun 1911 dan pemilik rumah bekerjasama dengan orang Belanda menjadi arsiteknya. Terdapat enam ruangan yang ada di rumah ini, ada teras, ruang depan/ruang kerja, kamar Simbah (H. Ali Rasyad), ruang tamu, dan kamar penyimpanan (terdapat loteng untuk menyimpan sampel tembakau). Sesuai ciri khas rumah-rumah peninggalan kolonial yang lain, rumah ini pun memiliki kamar mandi di bagian belakang rumah. Selain itu juga terdapat dapur dan juga loteng untuk memantau pengiriman tembakau dari Bengawan Solo. Bangunan rumah ini hingga saat ini masih asli, hanya terdapat beberapa perbaikan di bagian atap, warna cat, toilet, serta barang-barang interior.