Keunikan Arsitektur Tiga Wajah: Menelusuri Sejarah Gedung KPP Pratama Bojonegoro
BOJONEGORO – Terletak tepat di samping kompleks Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, sebuah gedung tua berdiri dengan fasad yang mencuri perhatian. Gedung KPP Pratama, peninggalan masa kolonial Belanda, tetap teguh mempertahankan wajah aslinya sebagai penanda perkembangan administrasi di jantung kota.
Simetri Unik dengan Tiga Arah Hadap
Salah satu daya tarik utama gedung ini terletak pada denah asimetris dan struktur atapnya yang kompleks. Gabungan antara model atap perisai dan pelana menciptakan tiga buah gable (gewel) yang masing-masing menghadap ke arah utara, barat laut, dan barat. Hal ini menjadikan gedung memiliki "tiga wajah" atau arah hadap, lengkap dengan pintu dan jendela pada masing-masing sisinya.
Keunikan ini kian dipertegas dengan hiasan jendela kayu berjalusi di setiap gewel, serta ornamen kerikil yang dikenal masyarakat sebagai teknik ampyangan. Ornamen ini membentuk garis-garis memusat segitiga yang menjadi ciri khas estetika periode transisi menuju arsitektur modern pada masa itu.
Ketangguhan Material Klasik
Kekokohan bangunan ini terlihat dari dinding bata setebal 35 cm yang diplester halus. Ornamen kerikil menghias bagian bawah dan atas jendela, sementara area tengah dinding dibiarkan polos untuk menonjolkan kusen pintu dan jendela yang mayoritas masih asli. Di bagian dalam, lantai tegel berukuran 20x20 cm dengan corak bintik hitam-putih khas bangunan kolonial masih terawat dengan baik.
Nadi Administrasi Perpajakan Sejak 1970
Meski tanggal pasti pendiriannya belum tercatat, karakter fisiknya menunjukkan gedung ini dibangun pada masa kolonial untuk fungsi pemerintahan. Menurut keterangan Bapak Muhammad Tahqiq Muna, gedung di Jalan Trunojoyo ini telah difungsikan sebagai kantor pajak setidaknya sejak tahun 1970-an.
Kala itu, Bojonegoro menjadi pusat layanan penting bagi kawasan barat Jawa Timur melalui Kantor Inspeksi Pajak Bojonegoro Tipe C. Wilayah kerjanya tidak main-main, mencakup tiga kabupaten sekaligus: Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Lokasinya yang strategis di pusat pemerintahan menegaskan betapa krusialnya fungsi gedung ini di masa lalu.
Transformasi Menjadi Rumah Dinas
Seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan publik, pusat kegiatan perpajakan kini telah dipindahkan ke gedung yang lebih modern di Jalan Teuku Umar Nomor 17. Namun, gedung lama di Jalan Trunojoyo ini tidak dibiarkan terbengkalai.
Saat ini, bangunan utama yang terdiri dari lima kamar dan satu ruang tengah tersebut dialihfungsikan sebagai rumah dinas bagi pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Upaya alih fungsi ini menjadi langkah positif dalam menjaga eksistensi fisik bangunan bersejarah, memastikan bahwa "tiga wajah" kolonial ini tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.