Menyibak Tabir Peradaban Megalitik: Jejak Kubur Kalang di Malo dan Kedewan
BOJONEGORO – Tersebar di kedalaman hutan jati yang rimbun, situs Kubur Kalang merupakan identitas budaya unik Bojonegoro. Peninggalan prasejarah berupa peti kubur batu ini menjadi bukti eksistensi "Orang Kalang", kelompok masyarakat yang hidup selaras dengan alam pada masa prasejarah.
Mengenal Sosok "Orang Kalang"
Siapakah sebenarnya pemilik kubur-kubur batu ini? Sejumlah pakar berpendapat bahwa Kubur Kalang merupakan makam dari "Orang Kalang", sekelompok masyarakat yang mendiami hutan rimbun dan gua-gua di masa lampau. Mereka kemungkinan besar termasuk dalam rumpun Malaya Polynesia yang hidup pada masa Megalithikum.
Keunikan ini dipertegas dengan letak geografis situs yang berada di daerah topografi karst. Hal ini menjadikan Kubur Kalang Bojonegoro sebagai sebuah cultural identity yang berbeda jika dibandingkan dengan wilayah karst lain di Nusantara.
Situs Kawengan: Antara Jati dan Sumur Minyak
Situs Kawengan menyajikan pemandangan arkeologis yang tak biasa. Peti-peti kubur batu di sini tersebar di dalam hutan jati yang masuk dalam areal pengeboran minyak. Secara administratif, lahan ini dimiliki oleh Kabupaten Bojonegoro, sementara hasil pertanian dan pohon jatinya dikelola oleh Perhutani KPH Tuban.
Akses Lokasi: Titik situs ini berada di dekat areal pengeboran sumur P.70 dan KW.P.8. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua menyusuri jalan setapak, namun perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki mendaki lereng pegunungan dari arah selatan menuju utara untuk mencapai titik utama kubur batu.
Situs Tanggir: Tantangan Pelestarian di KPH Parengan
Berbeda dengan Kawengan, Situs Tanggir di Kecamatan Malo terletak pada petak 70 dan 72 wilayah Perhutani KPH Parengan. Kondisi di sini cukup menantang karena rimbunnya semak semak tinggi seringkali menutupi keberadaan batu penyusun kubur.
Tantangan alam berupa erosi juga menjadi ancaman serius. Posisi situs yang berada di tanah datar namun dikelilingi perbukitan menyebabkan air hujan mengalir deras menuju areal situs, mengakibatkan tanah melesak dan menggeser posisi batu-batu penyusun kubur ke arah utara.
Urgensi Zonasi dan Penyelamatan
Hingga kini, telah teridentifikasi lebih dari 100 buah kubur kalang melalui berbagai survei. Namun, angka ini diyakini belum mencerminkan populasi sebenarnya. Mengingat situs-situs ini berada jauh dari pemukiman dan terletak di areal kerja Perhutani maupun pengeboran minyak, langkah zonasi menjadi sangat mendesak.
Kepastian luasan areal lindung sangat diperlukan agar kegiatan industri atau kehutanan di sekitarnya tidak merusak integritas fisik kubur batu. Sebagai warisan budaya yang unik, Kubur Kalang layak mendapatkan perhatian proporsional sebagai ikon sejarah prasejarah Bojonegoro.
Detail Perbandingan Situs:
Situs Tanggir (Malo):
- Wilayah KPH Parengan
- Petak 70 & 72
- Material: Batu kapur lokal
- Ancaman: Erosi & semak liar
Situs Kawengan (Kedewan):
- Wilayah KPH Tuban
- Dekat Sumur P.70 & KW.P.8
- Kontur: Lereng pegunungan
- Ancaman: Aktivitas pengeboran